- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Terkait kasus penghakiman massa terhadap Hardi (21) yang bekerja sebagai tukang tambal ban, kasus tebar paku makin meresahkan. Tertangkap basah saat menyebar ranjau paku di Jalan Daan Mogot, Hardi pun harus rela dihakimi massa pada Kamis (20/10) kemarin.
Massa menghakimi lantaran merasa kesal dengan ulah Hardi yang dengan sengaja menebar ranjau paku untuk meraih keuntungan. Karena terpergok saat berbuat curang itulah irinya dihakimi massa di jalanan saat itu juga. Tak puas menghajar Hardi, massa juga membakar motor Supra X milik pelaku.
Dengan alasan disuruh bosnya, Hardi yang ternyata sudah tiga bulan menyebarkan ranjau paku di Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat itu memang biasa menyebarkan paku di Pesing sampai Cengkareng, sepanjang Jalan Daan Mogot.
Menggunakan cara tebar paku, bos Hardi mendapatkan keuntungan tiga kali lipat lebih besar dari cara halal. Bayangkan saja, dalam sehari pelaku bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp 150 ribu per harinya.
Sementara modus tebar ranjau paku yang dilakukan Hardi menggunakan paku berukuran 4 cm dan menghabiskan sekitar 1 kilogram per bulannya. Entah berapa banyak paku yang akan dihabiskannya jika ternyata ulahnya tak ketahuan massa.
Akibat ulah Hardi ini pun, banyak tukang tambal ban lain yang diduga melakukan hal yang sama atau tak jauh beda. Meski tak semua tukang tambal ban berprofesi ‘ganda’, tapi tetap saja praduga tersebut ada kemungkinannya. Ujung-ujungnya, nama tukang tambal ban juga ikut tercoreng.
Ya walaupun tak semuanya, tapi saya juga yakin pasti ada beberapa pelaku tambal ban yang juga menyebar ranjau. Saya juga pernah mengalami dua kali bocor ban akibat paku kecil, dan anehnya di dekat sana ada tukang tambal ban. Meski tak ada bukti nyata, tapi kebetulan itu terasa mencurigakan.
