- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Observatorium Bosscha yang berada di Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat memang tempat menarik untuk dikunjungi. Bukan hanya untuk berwisata, tapi bisa juga untuk kepentingan studi.
Lihat saja dua astronom asal Amerika Serikat yang sengaja datang ke Indonesia untuk melakukan pengamatan okultasi Pluto di Bosscha ini.
Mark Bullock dari Southwest Research Institute, Colorado dan John Stansberry dari Steward Observatory ingin mengetahui apakah di Planet Pluto ada kehidupan atau tidak. Bagaimana caranya? Dengan meneropong atmosfer dan iklim cuaca di Pluto.
“Bosscha adalah salah satu tempat yang akan bisa dilintasi bayangan dari gerhana bintang yang akan dapat jelas diamati asalkan cuaca tidak mendung,” kata Mark didampingi temannya.
“Okultasi Pluto hanya akan terjadi selama dua menit mulai pukul 21.18 WIB. Meski demikian, pengamatan dilakukan sekitar 30 menit untuk mengabadikan momen sebelum dan pascaokultasi Pluto. Untuk merekam momen langka tersebut, dua astronom itu menggunakan Portable High-speed Occultation Telescope (PHOT) yang sangat sensitif terhadap pergerakan bintang,” menurutnya.
Lalu kenapa mereka memilih planet Pluto untuk diamati? Itu karena hingga saat ini masih sedikit astronom yang mengamati planet terkecil itu. Dan ternyata atmosfer Pluto punya kemiripian dengan bumi karena mengandung nitrogen lho.
Observatorium Bosscha, Hakim L. Malasan mengaku, Indonesia dengan Bosschanya bangga karena bisa ikut bagian mengamati fenomena langka itu. Meski hanya berlangsung beberapa menit.
Hakim menjelaskan okultasi pluto adalah peristiwa pergerakan pluto menutupi bintang di belakangnya ketika disaksikan pengamat dari bumi. Dua satelit pluto secara bergantian juga mengalami hal yang sama.
“Kejadiannya sama seperti gerhana. Dalam hal ini, Pluto menutupi cahaya bintang di belakangnya ketika dilihat dari bumi,” katanya.
Kejadian alam seperti ini memang sangat menarik untuk diikuti. Apalagi kalau bisa melihat langsung, pasti lebih seru.