- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Di Aceh, tepatnya di kota Juang Bireuen, ada seorang pria berinisial Abd (50), warga Desa Blang Paseh, Sigli, Pidie. Yang mempunyai pekerjaan tetap untuk mencari nafkah dengan mengemis. Namun ironisnya, pada setiap malam hari ia bersama istrinya, Njh (41), malah bisa menginap di hotel. Ckckckck…
Pengemis berbadan besar (gemuk) dan berjenggot pirang, dengan rambut yang sudah ubanan itu, kini dilaporkan mulai meresahkan masyarakat Bireuen. Menurut pengamatan warga tentang aktifitas si pengemis ini, sudah 2 minggu ia menginap di hotel tersebut.
“Kami heran ada pengemis tidur di hotel. Kalau siang mengemis di desa kami, padahal ia tampak sehat dan segar bugar,” ujar Yahya, seorang warga Bireuen.
“Setiap pagi kami temukan bapak berjengot itu pakai baju koko, kain sarung, dan peci haji bersama istrinya sarapan pagi di sebuah warung dekat hotel tempat ia menginap,” tambah seorang warga Geulanggang Baroe, Kota Juang, Bireuen.
Mustafa dan Amirul Mukminin dari Desa Geulanggang Baroe juga sependapat dengan Warga lainnya. Mereka berharap Pemkab Bireuen melalui dinas terkait menertibkan pengemis yang makin banyak berkeliaran di kabupaten itu. Salah satunya pengemis yang menginap di hotel tersebut.
“Aneh tapi nyata, ada pengemis yang hidup mewah dengan menginap di hotel dan makan mewah pula,” ungkap Amirul tidak percaya.
Hotel yang ditempati pengemis itu bernama Hotel Purnamaraya. Petugas hotel itupun membenarkan Abd bersama istrinya sudah 14 hari menginap di kamar bernomor 118. Anehnya, kata seorang petugas hotel, setiap Abd keluar hotel, pintu kamarnya digembok dari luar, sementara istrinya ditinggal di kamar hotel.
“Dia biasanya pergi pagi, terkadang pulangnya siang membawa sebungkus nasi untuk istrinya dan terkadang juga pulang sore. Dia membayar sewa kamar Rp 75.000 per hari. Sikapnya juga aneh dan egois serta sering ribut dengan petugas hotel. Kadang-kadang ia hanya mau membayar sewa kamar kepada saya,” kata seorang resepsionis hotel.
Abd terlihat bersama istrinya sarapan pagi di sebuah warung sebelah barat hotel tersebut. Ia membayar dengan uang pecahan ribuan yang sudah tergulung rapi. Dia mengambil dari saku kanan bajunya, yang diduga dari hasil mengemis. Namun, pria asal Sigli itu berbicara menggunakan bahasa campuran Aceh-Indonesia, baik dengan istri maupun warga.
Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Bireuen, Bustami Hamid, mengatakan pihaknya akan menertibkan para pengemis yang berkeliaran di daerah itu yang jumlahnya ratusan orang.