- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Kehadiran sosok pemain berdarah asing di timnas Indonesia memang tengah menjadi buah bibir. Sebut saja Christian Gonzales. Striker asli Uruguay ini tampil trengginas di lini depan Indonesia. Pergerakannya yang cerdik dan keseimbangan fisik yang mumpuni membuat barisan pertahanan musuh mati kutu. Demikian pula Irfan Bachdim. Pemuda 22 tahun yang menempa ilmu di akademi Ajax Junior ini menciptakan aura positif di tubuh tim Merah Putih.
Kehadiran dua pemain tersebut menimbulkan pro dan kontra. Beberapa pihak memuji langkah PSSI untuk melakukan naturalisasi pemain demi meningkatkan kemampuan timnas. Namun tak sedikit yang mencela tindakan ini dan mengatakan PSSI mulai terseret arus untuk menciptakan tim karbitan dengan mencomot pemain-pemain dari luar dan ditakutkan hal ini akan menjadi tren dan mengakibatkan pada akhirnya tak ada pemain berdarah pribumi di timnas.
Ada baiknya untuk diketahui bahwa Irfan Bachdim bukanlah pemain hasil naturalisasi. Dirinya memiliki keturunan Indonesia dan sudah memilih untuk memegang paspor Indonesia sejak umur 17 tahun. Ayah kandung Irfan, Nouval Bachdim, adalah arek Malang asli yang pernah memperkuat klub Persema Malang dimana Irfan bermain saat ini. Irfan kebetulan saja lama bermukim di belanda sebelum memutuskan untuk berkarir di Indonesia. Irfan Bachdim bisa disebut sebagai pemain keturunan seperti layaknya para artis sinetron kita yang berdarah-campuran (baik dari keturunan Tionghoa maupun Eropa), misalnya, Cinta Laura dan Arumi Bachsin. Bukankah kedua pesinetron tersebut tidak dinaturalisasi?
Irfan Bachdim memang dipanggil memperkuat timnas karena kemampuannya. Bukan karena ia pemain keturunan apalagi karena wajah tampannya. Irfan adalah pemain depan yang mumpuni. Pergerakan tanpa-bola, dribel dan passing serta visi permainannya dapat menunjang permainan timnas di skema Alfred Riedl saat ini. Ia pun mengaku siap jika suatu saat dirinya tak lagi dipanggil ke timnas. Irfan memang mencintai Indonesia dan memang memiliki impian untuk menetap disini.
Maka bisa disimpulkan PSSI hanya menaturalisasi seorang pemain, yakni Christian Gonzales. Mengapa? Saat ini, secara garis besar, pemain-pemain Indonesia berbakat banyak yang berposisi di sayap. Hal ini disebabkan karena fisik rata-rata pebola Indonesia yang berpostur kecil, sehingga mengandalkan kecepatan lari dan skill gocekan. Berbeda dengan seorang Gonzales, yang berposisi target man. Posisi ini membutuhkan fisik yang kuat, akal yang cerdas dan mampu menahan bola dalam waktu yang cukup lama. Indonesia jarang memiliki pemain bertipe semacam ini, hanya Bambang Pamungkas yang mampu melakukannya sebelum Gonzales, namun kini performanya sudah menurun. Hal ini yang menjadi pertimbangan PSSI untuk menaturalisasi Gonzales.
Keputusan tersebut nyatanya efektif. El Loco (julukan Gonzales) mampu menjalankan peran target man dengan sempurna meskipun sudah berumur 35 tahun. Adapun Gonzales baru diberikan kewarganegaraan Indonesia setelah 5 tahun tinggal di Indonesia. Jadi, ini sudah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang no 12 tahun 2006 tentang syarat-syarat naturalisasi.
Jadi tidak perlu kuatir bahwa setelah ini Indonesia akan terseret tren naturalisasi gila-gilaan seperti Filipina dan Singapura. Semua hanya demi efesienitas tim dan skema permainan yang diusung pelatih. Jangan pula berharap setelah ini akan ada pemain-pemain ‘londo’ yang memakai seragam timnas padahal mereka belum tentu memahami adat serta budaya Indonesia.
Karena sesungguhnya, program naturalisasi tidak baik untuk pengembangan jangka panjang. Apalagi bagi pemain muda lokal. Naturalisasi harus dipikirkan secara matang dan tidak terburu-buru, sehingga hasilnya maksimal. Pemain naturalisasi haruslah menjadi katalis dan patokan bagi pengembangan pemain muda kita, bukannya menjadi tumpuan harapan di masa depan.