- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Program naturalisasi pemain sedang marak dilakukan oleh beberapa negara di ASEAN terhadap tim nasional sepakbola mereka. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat mendongkrak prestasi dan kekuatan tim tersebut. Beberapa negara seperti Filipina dan Singapura sudah tidak asing lagi dengan memakai pemain ‘blasteran’ atau ‘cabutan’ di tim nasional mereka. Indonesia juga sudah mulai terkena trend ini.
Bagaimana dengan Malaysia? Menurut pelatih timnas Malaysia, Krishnasamy Rajagopal, Malaysia belum tertarik untuk mengikuti jejak negara-negara tersebut, namun juga tak menutup kemungkinan tindakan tersebut terjadi. “Bisa jadi nanti ada pemain dari luar. Mungkin satu atau dua orang, tapi mereka harus benar-benar berkualitas,” ujarnya kepada wartawan usai konfrensi pers jelang pertandingan Thailand versus Malaysia di Hotel Sultan, Jakarta, jumat (4/11) tadi pagi.
Malaysia saat ini memang sedang fokus pada pembinaan bibit muda mereka, bahkan armada Harimau Malaya (julukan Malaysia) yang diikutkan pada ajang AFF tahun ini mayoritas dicomot dari timnas U-23 mereka. “Sekarang kami masih tetap andalkan pemain lokal. Plan kami adalah untuk empat tahun mendatang dan sekarang saya sudah melihat banyak kemajuan di Malaysia, khusunya pada level junior,” ujar pelatih keturunan India itu.
Program naturalisasi pemain sepakbola pertama dilakukan di Asia Tenggara oleh Singapura beberapa tahun lalu. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak empat pemain yang benar-benar berdarah asing diubah kewarganegaraannya menjadi Singapura. mereka adalah Daniel Bennet (Inggris), Mustafic Fahrudin (Serbia), Itimi Dickson (Nigeria) dan Agu Casmir (Nigeria). Tindakan tersebut sukses mendongkrak prestasi timnas Singapura yang hingga kini sukses merengkuh dua trofi.
Filipina juga mengikuti jejak Singapura. Lebih dahsyat lagi, 8 dari 11 pemain inti Filipina kini terdiri dari pemain berdarah campuran dan naturalisasi. Indonesia pun tak mau kalah, satu pemain asing ‘diputihkan’ paspornya untuk membela Merah putih. Ia adalah Christian Gonzales, penyerang asal Uruguay yang sudah 5 tahun lebih merumput di Indonesia. Satu pemain lagi, Irfan Haarys Bachdim, berdarah campuran, namun sudah memegang paspor Indonesia sejak berumur 17 tahun.
Yang penting tetap ingat pada anekdot lama: ‘apapun yang berlebihan itu tidak akan baik’ ![]()