- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Bu Maria, anak laki-laki saya berusia 13 tahun, duduk di kelas VIII SMP. Dia anak terakhir di antara tiga bersaudara yang semua perempuan. Prestasi akademiknya cukup bagus, tapi mengapa emosinya tidak bagus ya? Dia sering marah tanpa sebab, suka jengkel-jengkel sendiri, dendam dengan orang yang suka menggodanya, padahal itu cuma bercanda. Yang paling menjengkelkan, dia masih suka menangis bila keinginannya tidak dituruti. Jadi, seperti anak kecil. Padahal, kami sudah sering menasihati. Mengapa anak kami yang sudah remaja masih cengeng, Bu? Bagaimana cara mendidiknya agar lebih bersikap dewasa? Terima kasih.
BELA, Malang
Usia 13 tahun memasuki masa remaja awal dan waktu seorang anak meninggalkan masa kanak-kanak. Pada periode tersebut, anak mengalami banyak konflik. Secara internal, anak dituntut untuk lebih mandiri, tanggung jawab, dan disiplin. Sedangkan secara eksternal, anak diharapkan bisa menempatkan diri, bersikap, dan berperilaku sopan. Padahal, banyak anak yang belum siap menjadi remaja seperti harapan orang tua dan lingkungan. Karena itu, kemudian muncul perilaku yang dianggap kekanakan seperti menangis dan marah.
Belum siapnya seorang anak memasuki masa remaja dipengaruhi banyak hal. Di antaranya, pengalaman yang diperoleh sewaktu kecil, penanaman pola asuh, dan kebebasan yang diberikan. Bantulah putra Ibu untuk mengendalikan emosinya yang menjadi bekal untuk kematangan pribadi anak dengan cara memahaminya, memberikan cara mengungkapkan dan menyelesaikan masalah dengan sering mengajaknya diskusi, serta mengikutsertakan anak di kegiatan remaja.
Karakter melankolis putra Ibu juga berpengaruh pada kestabilan emosinya. Anak yang cenderung melankolis biasanya lebih sensitif, mudah tersinggung, sering dendam dan moody, sehingga sering melihat masalah dari sisi negatif. Ajari anak untuk berpikir dan bersikap positif. Kuatkan pribadi anak dengan pengarahan yang penuh kasih. Dengan demikian, anak merasa dipahami sehingga mudah mengekspresikan suasana hatinya. Harapannya, anak menyikapi gejolak perasaannya dengan tidak menangis, tapi menyampaikan secara terbuka. Tugas orang tua adalah menanggapi, mendengarkan, dan membantunya. Semoga sedikit masukan ini bisa bermanfaat.