- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Harus dan hanya bisa diam di lokasi pengungsian membuat sebagian pengungsi tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis alias hubungan suami istri. Lantaran hal itu, pengungsi menganggap perlunya dibangun bilik asmara di lokasi pengungsian.
Salah satu pengungsi dari Desa Sidorejo, Ari Margareta (18) mengaku kebutuhan biologis tidak bisa tersalurkan selama berada di pengungsian.
Dia yang baru menikah pada Mei 2010 lalu, menginginkan dibangunnya bilik asmara. “Saya dan suami berada di pengungsian sejak Selasa (26/10) lalu. Ya tahan dulu. Kalau ada bilik asmara lebih bagus,” ujarnya di lokasi pengungsian Desa Keputran, Kecamatan Kemalang, Klaten, Selasa (2/11).
Hal yang sama diucapkan oleh Surono (45), warga dari Desa Sidorejo yang mengatakan harus terpisah dari istrinya di lokasi pengungsian. Diakuinya, situasi darurat membuatnya tidak bisa memenuhi kebutuhan biologis. “Sudah seminggu nahan. Jelas butuh bilik asmara,” ungkapnya.
Menurut Surono, sejumlah pasangan suami-istri (pasutri) terpaksa harus kembali ke rumah masing-masing. Tidak hanya untuk memberi makan ternak, mereka juga memenuhi kebutuhan yang lain. “Ya terpaksanya pulang, kalau butuh,” katanya.
Dikonfirmasi mengenai kebutuhan pengungsi tersebut, Bupati Klaten, Sunarna mengatakan bilik asmara belum perlu dibangun di lokasi pengungsian. Jika akan menyalurkan kebutuhan tersebut, pengungsi dapat menggunakan ruang di rumah teman atau tetangga lain.
“Masyarakat lebih tahu lah. Mereka punya tetangga dan teman banyak. Ruang juga banyak, jadi bisa sementara pakai ruang punya teman atau tetangga,” imbuhnya.
Meski demikian Sunarna mengakui, pengungsi membutuhkan penyaluran kebutuhan tersebut. Hal ini mengingat belum pastinya berapa lama pengungsi harus berada di lokasi pengungsian.
sumber :republika
Walah…..kok ya masih sempat mikir….????
pengungsi juga manusia haha
aku yo kaget jee