- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Saya pria 30 tahun. Ketika memakai dildo, saya dan pasangan sering mengoleskan cairan lubricant. Atau, dildo dipakaikan di kondom. Dari segi medis, adakah efek samping dari pemakaian sex toys seperti itu?
Yes, Surabaya
Dildo atau benda berbentuk penis merupakan salah satu jenis sex toys yang digunakan untuk mendapatkan atau menambah kenikmatan seks.
Terdapat berbagai ukuran dan bentuk dildo. Ada yang kecil, sedang, ataupun besar. Bahan dildo bisa dari bahan setengah kaku (semi-rigid) sampai yang berbahan keras. Sebagian dildo bisa berfungsi sebagai vibrator, bahkan dengan getaran yang bisa diatur.
Dildo dengan fungsi vibrator, antara lain, digunakan untuk merangsang lawan jenis. Yakni, melalui sentuhan getar pada daerah sensitif terhadap rangsang seks (erotic zone).
Tentang penggunaan pelumas dalam pemakaian dildo, itu secara fungsi akan mengurangi risiko trauma liang senggama. Terutama, jika dildo dipakai dengan cara penetrasi ke dalam vagina.
Jenis pelumas yang digunakan sebaiknya pelumas yang bersifat larut dalam air (water soluble). Pelumas yang tidak larut dalam air berakibat peningkatan risiko infeksi. Sebab, pelumas yang tak larut air jika tertinggal di dalam organ kelamin perempuan akan menjadi media tempat hidup mikroorganisme.
Penggunaan kondom untuk membungkus dildo bisa berfungsi mengurangi risiko infeksi. Khususnya, dildo pada kondisi kurang bersih. Kondom yang baru dibuka dari bungkusnya umumnya mengandung pelumas dan bahan spermisida (mematikan sel sperma).
Dalam penggunaan sex toys, salah satunya dildo, pertanyaannya, mengapa menggunakan dildo? Adakah gangguan ereksi, penis kecil, ejakulasi dini, atau ada gangguan tertentu?
Bisa saja, seorang pria yang masih muda memiliki masalah gangguan orientasi seks. Tapi, menikah karena faktor normatif. Latar belakang yang mendasari seseorang melakukan suatu tindakan akan menjelaskan kenapa seseorang memakai sex toys.
Jika ada masalah yang mengganggu, upayakan kualitas hubungan suami istri lebih baik tanpa sex toys. Khususnya, untuk meminimalkan kemungkinana masalah yang bisa terjadi. (Hudi Winarso, Androlog)