About    Kontak    Sitemap   •   HUMOR  |  LIRIK
  • Hai, Selamat datang di Gugling! Please like us on:

Kenapa Mbah Maridjan Enggan Turun Dari Merapi?

Lain-lain
Billy, 27.10.2010 - 14:30
  • Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!

maridjanKabar kematian Mbah Maridjan mengagetkan sejumlah besar masyarakat Indonesia. Hal ini menambah dalam duka terkait dengan bencana merapi selasa (26/10) kemarin.

Satu hal yang menjadi misteri adalah kenapa Mbah Maridjan tidak mau turun dari gunung berapi tersebut. Apa yang melatar belakangi tindakan nekatnya tersebut?

Mbah Maridjan sudah puluhan tahun menjadi Juru Kunci / kuncen Gunung Merapi. Beliau adalah manusia tradisional yang memperhatikan alam sekitarnya dengan kebiasaan niteni (memperhatikan). Beliau lebih percaya kepada nalurinya ketimbang teknologi modern.

Selama ini, letusan Gunung Merapi tidak pernah sampai membahayakan Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, tempat tinggal Mbah Maridjan. Hal ini mungkin memberikan pelajaran niteni bagi beliau bahwa lingkungan alam di sisi selatan Gunung Merapi masih merupakan benteng pertahanan bagi warganya.

Mbah Maridjan, sebagaimana warga lereng Merapi lainnya, percaya bahwa ada hubungan melindungi dan dilindungi antara alam dan manusia. Gunung beserta isinya adalah sebuah komunitas yang saling menunjang dalam kelangsungan hidup.

Terkait dengan kepercayaan itulah maka sang kuncen menangkap adanya bahaya dari ‘isyarat’ yang dikeluarkan Gunung merapi. Sebelum adanya isyarat tersebut, beliau beranggapan bahwa Merapi belum pada titik membahayakan, hal ini kemungkinan yang menyebabkan beliau menolak meninggalkan gunung yang dicintainya ini. Karena beliau belum menangkap isyarat atau tanda bahaya dari gunung tersebut.

Apakah hal ini benar? Wallahuallam, spekulasi hanya sebatas nalar manusia, yang jelas, hanya Mbah Maridjan dan Tuhan yang tahu pasti alasan beliau lebih memilih untuk diam dan bersujud di rumahnya ketimbang menyelamatkan dirinya sendiri pada saat wedhus gembel mulai turun dan menghanguskan desanya.

Selamat jalan, Mbah Maridjan, doa kami menyertaimu.

Beri Komentar