- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Ikan doyok ini membuat heboh masyarakat Wajo. Maklum, kemunculannya tiba-tiba dalam jumlah yang sangat banyak. Dari mana asalnya dan bagaimana rasanya?
Bentuk badan ikan ini bulat panjang tapi agak pipih. Moncongnya bundar dan tumpul dengan bibir menjumbai. Warna sisiknya cokelat bercampur hijau kehitam-hitaman. Ada juga yang agak kuning kehitam-hitaman.
Jenis ikan ini langka. Dan hanya bisa di temui di Danau Tempe, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Masyarakat sekitar Danau Tempe menyebutnya ikan doyok. Ada juga yang menyebutnya ikan turis.
Awalnya, Ikan ini mulai menggegerkan masyarakat Wajo pada awal-awal banjir tahun 1990-an. Saat itu, ikan ini muncul dengan populasi yang sangat banyak di hampir semua rumah yang terendam banjir. Sejak itu, ikan doyok kerap muncul di awal musim banjir. Tepatnya saat air pertama kali keruh.
Kepala Bidang Bina Usaha dan Kelembagaan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wajo, Andi Syamsul Bahri menginfokan, dalam ilmu perikanan, jenis ikan ini disebut Ikan Nilem.
Dalam bahasa latin dikenal dengan istilah Osteochillus Hasselli, dan dalam bahasa Inggris Nilem Carp. Di Indonesia, selain di Wajo, jenis ikan ini hanya ditemukan di Kalimantan.

Menurut cerita beberapa warga, Dulu ada orang yang bawa benihnya dari Kalimantan dan menaburnya di Danau Tempe. Makanya ada yang menyebut ikan ini sebagai ikan turis karena bukan ikan asli Danau Tempe. Dan tidak ada yang tahu kapan persisnya ikan jenis ini pertama kali dikembangbiakkan di Wajo.
Ikan doyok biasanya melakukan perkawinan saat Danau Tempe mengering di mana luas permukaannya tersisa kurang lebih 1000 hektare. Selanjutnya, saat permukaan danau mencapai 10.000 hektare, ikan ini menyemburkan telurnya, dan menetas saat permukaan danau mencapai luas 35.000 hektare.
Perkembangan ikan ini sangat pesat. Induknya bisa menghasilkan telur hingga separuh dari volume badannya. Proses menetas dan pertumbuhannya juga sangat singkat, yaitu saat air keruh dan suhunya dingin.
Jenis ikan doyok ini memiliki kandungan protein yang sangat rendah. Selain itu, rasanya agak pahit.
Daerah pemasaran ikan doyok ini antara lain Kendari, Enrekang dan Toraja untuk lingkup Sulsel. Selebihnya dijual antar-pulaukan ke Cirebon, Garut, dan Surabaya.
Biasanya ikan ini dijadikan sebagai makanan ternak ayam.