- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Pembahasan mengenai perpindahan ibu kota yang dilatarbelakangi dengan padatnya kota Jakarta yang menimbulkan kemacetan tingkat parah, membuat Presiden SBY melontarkan wacana perpindahan ibu kota.
Wacana itu disampaikan SBY saat buka bersama KADIN di Jakarta pada hari Jumat (3/9/2010) kemarin yang kemudian segera ditindaklanjuti dengan berbagai langkah strategis oleh Kementrian dan Lembaga terkait.
Ada tiga skenario yang akan dipikirkan untuk perpindahan ibu kota ini.
1. Skenario realistis
Di mana ibu kota tetap di Jakarta. Namun, untuk yang satu ini, harus ada pilihan kebijakan untuk menata, membenahi, dan memperbaiki berbagai persoalan Jakarta, seperti kemacetan, urbanisasi, degradasi lingkungan, kemiskinan urban, banjir, maupun tata ruang wilayah.
2. Skenario moderat
Dalam konteks ini, Presiden menawarkan agar pusat pemerintahan dipisahkan dari ibu kota negara. Artinya, Jakarta akan tetap diletakkan sebagai ibu kota negara karena faktor historis. Namun, pusat pemerintahan akan digeser atau dipindahkan ke lokasi baru. Karena itu, dibutuhkan kajian yang komprehensif perihal berbagai opsi lokasi dari pusat pemerintahan baru ini.
3. Skenario ideal yang bersifat radikal
Dalam opsi ini, negara membangun ibu kota negara yang baru dan menetapkan pusat pemerintahan baru di luar wilayah Jakarta, sedangkan Jakarta hanya dijadikan sebagai pusat bisnis.
Meskipun kajian mengenai perpindahan ibu kota yang dilakukan pemerintah telah berjalan, Presiden tetap mengajak para pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah, dunia usaha, kalangan universitas, dan lembaga swadaya masyarakat, untuk memberikan masukan bagi penyempurnaan kajian-kajian yang dilakukan oleh pemerintah.
Dari 3 skenario di atas, manakah yang kamu pilih?
saya pilih no.3
Saya pilih no.3