Klik disini untuk menerima update terbaru dari Gugling. GRATIS!
Mujahidin Taliban telah menembakkan roket di pangkalan utama NATO di Afghanistan selatan menyebabkan beberapa pasukan NATO terluka. Ini adalah kedua kalinya dalam 13 hari pangkalan militer NATO telah diserang.
Pada tanggal 22 Mei sebuah roket dan serangan darat terjadi di pangkalan militer di Kandahar menyebabkan sejumlah orang terluka dan memaksa pihak keamanan di salah satu basis terbesar militer Afghanistan bersiaga penuh.
Roket-roket itu datang pada saat keamanan sedang ditingkatkan di Kabul pada hari ketiga dan terakhir pertemuan dewan jirga, atau pertemuan para tetua Afghanistan, yang disebut-sebut akan memberikan harapan dengan menemukan solusi untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung lama di Afghanistan.
Empat roket ditembakkan ke lapangan udara Kandahar pada Kamis, dua lagi pada sekitar pukul 15.00 (17.30 WIB), satu pada 20.00 (22.30 WIB) serta satu lagi dua jam kemudian, kata seorang pejabat NATO itu kepada kantor berita Prancis AFP.
“Serangan pada pukul 20.00 mengakibatkan luka ringan beberapa tentara,” kata pejabat tersebut dengan syarat namanya tidak disebutkan dan tanpa mengungkapkan kebangsaan tentara korban.
Satu roket dan serangan darat atas pangkalan Kandahar melukai sejumlah orang dan memaksa gerakan keamanan pada 22 Mei.
Lapangan udara Kandahar adalah salah satu pangkalan tentara terbesar di Afghanistan dan naf utama persekutuan pertahanan Atlantik utara NATO di bagian selatan negara terkoyak perang itu. Secara teratur, pangkalan itu mendapat serangan roket.
Pangkalan itu terletak di pinggir kota Kandahar, tempat tentara Amerika Serikat, NATO dan Afghanistan membangun gerakan untuk memaksa Taliban keluar dari rumah rohani mereka setelah sembilan tahun perang. Perlawanan Taliban terhadap pemerintah dan 130.000 tentara asing pimpinan Amerika Srikat saat ini pada tingkat mematikan.
Kelompok gari keras itu bulan lalu bersumpah melancarkan upaya baru dengan serangan terhadap diplomat, anggota parlemen dan pasukan asing.
Pada 26 Mei, bom mobil meledak dekat pangkalan sipil-militer yang dikelola Amerika Serikat di kota Kandahar, namun tidak ada korban.
Taliban, yang memerintah Afghanistan sejak 1996, mengobarkan perlawanan sejak digulingkan dari kekuasaan di negara itu oleh invasi pimpinan Amerika Serikat pada 2001, karena menolak menyerahkan pemimpin Alqaida Osama bin Ladin, yang dituduh bertanggung jawab atas serangan di wilayah negara adidaya itu, yang menewaskan sekitar 3.000 orang pada 11 September 2001.
NATO dan Amerika Serikat menambah pasukan ke negara itu, tempat penyebaran mereka mencapai 150.000 pada Agustus saat panglima meningkatkan perang dengan Taliban di wilayah jantung mereka dalam upaya menarik mereka pada ahir tahun ini.
Hingga akhir Mei, sejumlah 1.790 tentara asing tewas di Afghanistan sejak serbuan pimpinan Amerika Serikat untuk menumbangkan pemerintah Taliban pada ahir 2001.
Korban terbanyak dialami tentara Amerika Serikat, dengan 1.087 orang, diikuti Inggris dengan 289 orang, Kanada (145), Jerman (43), Prancis (42), Denmark (31), Spanyol (28), Italia (24), Belanda (24) dan negara lain (77).
Kekerasan di Afghanistan mencapai tingkat tertinggi dalam perang lebih dari delapan tahun dengan gerilyawan Taliban itu, yang memperluas perlawanan dari wilayah selatan dan timur negara itu ke ibukota dan daerah sebelumnya damai.
Banyak di antara tentara dari 43 negara itu tewas akibat peledak buatan rumahan IED, yang ditanam pejuang Taliban.
Taliban lebih kuat daripada yang diperkirakan NATO, namun sekutu di Afghanistan itu akan mencapai kemajuan, baik secara ketentaraan maupun politik, pada tahun ini, kata Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen pada Senin.
“Kita harus jujur dan mengatakan bahwa mereka tampaknya lebih kuat daripada yang kita perkirakan ketika gerakan asing mulai digelar pada 2001,” kata Rasmussen kepada penyiaran Kanada CBC dalam wawancara telepon.
