- Klik disini untuk menerima update terbaru dari kami. GRATIS!
Tokoh masyarakat Nangroe Aceh Darussalam, Teungku Hasan Muhammad di Tiro meninggal pada usia 84 tahun. Tiro wafat sehari setelah resmi kembali lagi menjadi warga negara Indonesia (WNI), setelah sebelumnya berkewarganegaraan Swedia.
Mantan petinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu resmi menjadi Warga Negara Indonesia saat Menko Polhukam Djoko Suyanto menyerahkan berkas-berkas keresmian menjadi WNI kepada Hasan Tiro Rabu 2 Juni kemarin di Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Aceh.
Surat sebagai warga negara Indonesia itu sudah diajukan pemerintah sejak awal 2010 dan diserahkan kepada keluarga Hasan Tiro bernama Teungku Fauzi Zainal Abidin.
Hasan Tiro adalah putra Indonesia yang sempat berpindah menjadi warga negara Swedia karena persoalan politik. Kala itu, Hasan Tiro menjadi aktor utama yang ingin Aceh merdeka dan memisahkan diri dari Indonesia. Beruntung, polemik tersebut berakhir setelah ada perjanjian damai di Helsinki Finlandia.
Deklarator atau pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Dr Tgk Hasan Muhammad Di Tiro (85), meninggal dunia Kamis (3/6) sekitar pukul 12.15 WIB, setelah menjalani perawatan intensif selama hampir dua pekan di ruang ICCU Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin (RSUZA) Banda Aceh.
Kabar meninggalnya tokoh kharismatik yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Nanggroe GAM itu menyebar sangat cepat ke seluruh wilayah provinsi ini. Dalam sekejap, sejumlah tokoh penting maupun pejabat teras di Aceh langsung menuju ke RSUZA untuk melayat Hasan Tiro. “Wali (Hasan Tiro) sudah dipanggil Allah dan meninggalkan kita untuk selama-lamanya,” kata petinggi GAM, Malek Mahmud Al-Haytar yang ditemui di RSUZA Banda Aceh, kemarin.
Sebelum dinyatakan tutup usia, sahabat-sahabat Hasan Tiro yang juga petinggi GAM yaitu Malek Mahmud dan Zaini Abdullah dipanggil ke ruang perawatan oleh dokter. Usai pemberitahuan itu, Malek Mahmud langsung memerintahkan pembentukan panitia untuk mengurus proses persemayaman Hasan Tiro. Wafatnya Hasan Tiro ini, praktis menyisakan kesedihan dan duka mendalam bagi masyarakat di provinsi ujung barat Indonesia itu.
Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Hasan Tiro dilaporkan menderita sejumlah penyakit, seperti jantung, gangguan darah, radang paru-paru, gula darah, dan radang hati.
Salah seorang tim dokter yang merawat Hasan Tiro, dr Andalas SpOG, mengatakan, sebelum meninggal dunia beberapa saat sebelum azan shalat zuhur, kondisi kesehatan Wali memang mulai makin menurun sejak Rabu (2/6) malam. “Kondisi kesehatan Hasan Tiro terus menurun. Tekanan darahnya hanya 70/40 dan trombosit 20.000. Semua sistem kekebalan tubuh juga kurang berfungsi,” kata Andalas yang juga Wakil Direktur Bidang Pelayanan RSUZA.
Pihak medis sempat melakukan pemasangan alat bantu dan memberikan rangsangan resutisasi jantung paru, namun tidak berhasil. Kemarin, Hasan Tiro sempat mengalami berhenti detak jantung sebanyak tiga kali. Dengan rangsangan resutisasi jantung paru ini, dia masih bisa diselamatkan.
“Namun, tadi jantung berhenti berdenyut dan tidak berhasil diatasi. Kami tim dokter sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Allah SWT berkehendak lain dan Wali dipanggil untuk selama-lamanya,” katanya.
Saat jenazah Hasan Tiro dibawa pulang dari RSUZA, dikawal ketat ratusan anggota Komite Peralihan Aceh (KPA). Ribuan masyarakat yang memadati rumah sakit juga mengiringi pemberangkatan jenazah dengan salawat dan takbir.
Selanjutnya, jenazah Hasan Tiro disemayamkan selama beberapa saat dan dimandikan di rumah dinas Ketua DPRA, Hasbi Abdullah, di kawasan Blang Padang, Banda Aceh. Sebagai bentuk berkabung atas meninggalnya Hasan Tiro, di rumah dinas Ketua DPRA dikibarkan bendera setengah tiang. Gubernur Aceh Irwandi Yusuf dan
Wakil Gubernur Muhammad Nazar, juga terlihat di antara ribuan pelayat.
Bendera setengah tiang juga dikibarkan di rumah dinas Wagub. Gubernur Irwandi Yusuf mengatakan, bendera setengah tiang dikibarkan selama empat hari sejak Kamis.
Ribuan masyarakat, simpatisan, dan anggota GAM memadati kediaman rumah dinas Ketua DPRA. Wajah mereka memancarkan kesedihan. “Kami kehilangan,” kata seorang pelayat.
Sekitar pukul 16.15 WIB, jenazah dibawa ke Masjid Raya Baiturrahman untuk disalatkan. Di barisan depan rombongan pembawa jenazah, terlihat Irwandi Yusuf, Muhammad Nazar dan sejumlah bupati/walikota, diikuti petinggi GAM seperti Malek Mahmud, Zaini Abdullah, Muzakkir Manaf, Zakaria Saman yang diikuti ribuan eks anggota GAM.
Setelah disalati, jenazah Hasan Tiro dibawa ke Desa Meureu, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar, untuk dimakamkan. Di Desa Meureu, sekitar 20 kilometer timur Banda Aceh, juga terdapat makam Pahlawan Nasional Tgk Chik Di Tiro, kakek almarhum. Ribuan warga berdiri di sepanjang jalan menuju ke Meureu untuk memberikan penghormatan terakhir.
NKRI kudu tetap dijaga….kini walau telah almarhum pemerintah tetap respek memberikan kewarganegaraan……..
…walaupun petinggi gam ini dulu sempat ingin punya ambisi memerdekan aceh…tapi nasih dan takdir berkata lain……